Mancanegara | Biarpun kecil, Turkmenistan berhasil menurunkan jumlah perokok di negaranya, meskipun cara yang digunakannya harus ekstrem.

Presidennya bernama Gurbanguly Berdymukhamedov. Ia tergolong pemimpin yang otoriter. Terbukti di bawah kepemimpinannya, catatan HAM di negara ini merupakan salah satu yang terburuk di dunia.

Namun setidaknya ada satu hal positif yang dimiliki pria ini. Dengan latar belakang sebagai dokter gigi, Gurbanguly mempunyai gaya hidup sehat, dan ia sangat fokus mengkampenyakan gaya hidup ini kepada rakyatnya.

TV nasional kerap menayangkan program-program acara yang mendorong rakyatnya agar bergaya hidup sehat, bahkan ‘dibintangi’ langsung oleh sang presiden. Beberapa jenis aktivitas outdoor yang digemarinya adalah bersepeda dan memancing.

Dan Gurbanguly punya misi khusus, yaitu menjadikan negaranya bebas rokok. Per Januari lalu, otoritas Turkmenistan telah melarang seluruh penjualan produk rokok di negaranya. Toko yang ketahuan menjual rokok akan didenda sebesar 6.900 manats atau setara dengan 1.680 dollar AS.

Sebagai bentuk apresiasi, beberapa waktu lalu World Health Organization mengganjarnya dengan sebuah penghargaan karena prestasi tersebut.

Dikutip dari The Guardian, Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan, dalam kunjungannya ke Turkmenistan beberapa waktu lalu mengungkapkan, Turkmenistan menjadi negara dengan proporsi perokok paling rendah di dunia, yaitu hanya 8 persen saja atau hanya 1 dari 12 orang saja.

“Ini adalah indikator nasional terendah di dunia,” imbuhnya.

Tetapi cara yang digunakan Gurbanguly untuk mencapai tujuan itu bisa dibilang di luar kebiasaan. Pemerintah Turkmen melakukan monopoli pada media untuk memperkuat kampanyenya. Semisal tiap hari Kamis, negara melakukan pemusnahan produk rokok yang diimpor secara ilegal dan menyiarkannya secara langsung (live) ke penjuru negeri.

Gurbanguly sendiri pernah mengkritik kepala State Service for Protecting the Security of a Healthy Society karena tidak melakukan upaya yang cukup keras untuk menghapuskan kebiasaan merokok dari bumi Turkmenistan. Bahkan presiden menurunkan pangkat sang kepala lalu mengancam memecatnya bila performa itu tidak diperbaiki.

Di balik itu, rakyat tidak bahagia, walaupun ‘Health and Happiness’ adalah salah satu slogan utama kampanye Gurbanguly. Bila rakyat tidak puas dengan kinerjanya, mereka harus tetap diam. Kepada reporter BBC, salah seorang penduduk ibukota Ashgabat mengatakan, bila Anda ingin dilayani dengan baik di rumah sakit, Anda harus menyuap mereka. Semua orang tahu tentang hal ini, tetapi tak ada yang bisa mengeluh.

Hasil laporan situs independen dari Wina, Chrono-TM, juga menyebut, bentuk represi negara terhadap peredaran rokok akhirnya memunculkan pasar gelap rokok di mana tiap bungkus rokok dihargai mencapai 12 dollar AS.

Muncul dugaan bahwa dengan ‘prestasi’ tersebut, ia ingin dunia menutup mata dari ‘borok’ Turkmenistan yang lain, semisal pelanggaran HAM dan undang-undang yang memperbolehkan presiden berkuasa seumur hidup di negeri ini. | red/detikcom

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *