Mengurai Perjalanan Antara Lampung – Jakarta dan Banjarmasin HPN 2020

LAMPUNG7NEWS LAMPUNG7NEWS

Banjarmasin | Hari itu, Kamis 6 Februari 2020, saya (Ekli-penulis) bersama 6 orang teman asal Perwakilan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kabupaten Mesuji bertolak menuju Bandara Raden Intan II Lampung Selatan, untuk bergabung bersama Ketua PWI Provinsi Lampung Supryadi Alfian beserta rombongan yang akan menuju Banjarmasin Provinsi Kalimatan Selatan dalam rangka menghadiri puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2020, 5 – 10 Februari.

Sekitar pukul 08.30 WIB (Waktu Indonesia Barat) pesawat Garuda Air ‘Traveling’ take off Lampung – Jakarta memakan waktu tempuh 35 menit Landing di Bandara International Soekarno – Hatta Tanggerang, Banten – Indonesia.

Setelah beberapa waktu, pesawat transit Jakarta – Banjarmasin kembali take off pukul. 11.30 WIB. Tapi, pada penerbangan kali itu, saya terpisah dari rombongan dan harus mengurus reservasi.

Sempat sedikit drop, tapi entah kenapa rasa optimis dan ketenangan itu saya rasakan ketika support dari Ketua PWI Provinsi Lampung Supriyadi Alfian dan teman-teman Pers perwakilan PWI Mesuji terus memberi semangat, saya pasti sampai ke Banjarmasin. “Salut untuk PWI Provinsi Lampung”.

Rasa ingin tau saya untuk menyusuri titik demi titik lokasi strategis yang ada di Bandara International Soekarno – Hatta, terus terpacu sambil menunggu waktu.

Dari terminal 3 Garuda Air saya melangkah menuju Kalayang Bandara Soekarno–Hatta (Soekarno–Hatta Airport Skytrain) menaiki Kereta Listrik untuk sampai ke terminal 1 Lion Air.

Waktu perjalanan sekitar 15 menit, saya sampai ketempat yang dituju. Dari situlah saya mendapat jawaban bahwa pesawat yang akan saya tumpangi tujuan Jakarta – Banjarmasin take off pada hari Jumat 7 Februari, pukul. 05.15 pagi.

Saya duduk dikursi pesawat 4F, saat pesawat mulai bergerak Cabin Crew (Pramugari) mengatakan, penerbangan dengan Flight Number JT 0320 memakan waktu perjalanan selama 1 Jam 35 menit.

Pesawat pun perlahan menjulang ke udara. Pada saat ‘Climbing’ jantung saya berdebar seperti ada yang mendorong dari belakang. Saya coba untuk tetap tenang dengan melihat keadaan sekitar.

Sebelum Landing di Airport Internasional Syamsudin Noor, pesawat yang saya tumpangi mengambang dilangit KalSel selama 30 menit mundur dari jadwal waktu penerbangan biasanya, akibat cuaca berkabut tebal yang menyebabkan Kota Banjar di guyur hujan.

Dari atas langit Kalimantan Selatan, saya melihat banyak sekali aliran sungai, dan genangan air disetiap sudut mata memandang. Muncul pertanyaan dibenak saya, ‘Apakah ini yang dijuluki Kota Seribu Sungai,”.

Kemudian, setelah pintu pesawat terbuka, saya menapaki kaki pertama di KalSel tepat pukul 08.35 WITA ( Waktu Indonesia Tengah). Disertai tetesan air hujan membasahi Bumi Kota Banjar yang bermotto ‘Baiman Bauntung Batuah’ dengan arti Beriman, Beruntung, Bertuah.

Kembali saya melanjutkan langkah demi langkah menyusuri lorong bandara sampai di pintu Selamat Datang Bandara Syamsudin Noor. Saya bertemu dengan senior saya Don Peci dari Provinsi Lampung bersama teman PWI asal Banda Aceh dan Anggota SIWO Jakarta.

Kami ditumpangi satu unit armada JetBus berplat merah dengan Nopol DA 795 AI yang di fasilitasi Pemerintah Daerah Banjarmasin mengantar kami ketempat tujuan masing-masing.

Selama diperjalanan, curah hujan terus mengguyur. Dan saya duduk disebelah kiri kursi penumpang. Pandangan pun tertuju ke sisi jalan. Disana saya melihat masih banyak sekali lahan kosong yang belum diisi bangunan, baik rumah, ruko, kantor maupun pusat perbelanjaan.

Sementara, dibibir jalan terdapat drainase yang airnya hampir sejajar dengan badan jalan. Bahkan dibeberapa titik luapan air keluar dari saluran meski sudah terpasang trotoar. Sehingga luapannya banyak yang tergenang.

Sambil mengamati pemandangan sekitar, saya pun sampai ketujuan untuk beristirahat di Swiss Belhotel Borneo Kamar 301 Lantai Tiga. Saya beristirahat sejenak sambil membasahi tubuh dengan curah air hangat.

Sejenak saya terdiam, dan rasa penasaran saya tentang keberadaan Sungai Martapura yang menjadi pusat pasar terapung kembali muncul. Ternyata aliran sungai itupun tepat berada didepan hotel kami menginap.

KEPULAN ASAP ITU BERASAL DARI KOLONG JEMBATAN.

Saat merilis tulisan ini, saya sedang berada disisi sebelah Jembatan penghubung ‘Sudi Mampir’ diatas Sungai Martapura, Dermaga Pasar Baru sambil menikmati panorama langit Banjarmasin yang perlahan mulai gelap.

Sekilas tampak seperti biasa, tapi setelah saya amati
dibawah kolong jembatan itu ada puluhan orang yang tinggal disana. Mulai dari anak kecil, dewasa dan Lansia. Kegiatan yang mereka lakukan pun seperti kehidupan rumah tangga pada umumnya, tidur, mandi, makan dan memasak diatas kepulan asap hitam dengan alat seadanya.

Menurut keterangan Ahmad Sanusi (42) warga asli Banjar menjelaskan, keberadaan mereka yang tinggal dikolong jembatan tersebut sudah puluhan tahun, bahkan pernah mencapai 25 orang di area seluas lebih kurang 6×12 meter.

Ingin rasanya saya membangun komunikasi. Tapi saya khawatir dengan sikap dan nada bicara saya yang berasal dari tanah Sumatra dapat menyinggung perasaan mereka. Akhirnya saya putuskan untuk tidak perduli dengan semua yang saya lihat, “Sudahlah, itu sudah biasa,” saya coba untuk mengalihkan fikiran saya.

Segera saya kembali kehotel untuk mengikuti acara Gala Dinner di Golden Tulip Galaxy Hotel Banjarmasin, dengan nara sumber Mohammad NUH selaku Ketua Dewan Pers Periode 2019-2022 bertema ‘Media System Netfinity’ dihadiri oleh Ketua PWI Pusat Atal S Depari, dan ribuan awak media dari seluruh Indonesia, Jumat malam, 7 Februari 2020.

Setelah hadir dalam acara itu, kami pun kembali kehotel untuk beristirahat. Ternyata kamar dengan fasilitas ruang ber -Ac, kasur empuk dan selimut tebal, tidak cukup membuat saya nyaman. Ketika saya teringat keberadaan mereka yang tidur dibawah kolong jembatan, beralas tanah, beratap aspal jalanan, dan berdinding terpal yang dikelilingi bekas sampah berserakan.

Saya selalu mencoba menghindar dan menghindar untuk tidak usil dengan posisi mereka yang mungkin sudah merasa nyaman menjalani kehidupan dibibir Sungai Martapura itu.

Tapi, ketika saya sedikit menyimak sambutan Gubernur Kal-Sel H. Sahbirin Noor pada puncak perayaan HPN Tahun 2020 yang dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo, dihalaman Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Jalan Dharma Praja No. 1 Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Ia mengatakan, rangkaian HPN 2020 di ‘Bumi Lambung Mangkurat’ dengan membawa ribuan pohon merupakan bentuk persahabatan yang abadi. Terlebih HPN tahun ini mengusung tema besar “Pers Menggelorakan Kalimantan Selatan Gerbang Ibu Kota Negara”, terangnya.

Dengan pernyataan itu, tentu saja Pemerintah Kalimantan Selatan tidak main-main untuk berkemas diri, mulai dari sektor pembangunan, kesehatan, perekonomian dan juga peningkatan SDM masyarakat setempat, dengan keragaman dan kemajemukannya.

Saya pun kembali mengutif sambutan dari Presiden RI Joko Widodo yang menjadi orang nomor 1 di Bumi Pertiwi ini, “Pemindahan Ibu Kota merupakan masalah serius yang bisa membawa inovasi dan ekosistem yang baik, juga menginstal sebuah sistem perpindahan Pola Fikir (Mindset) dan Pola Kerja.

Naif rasanya jika kita terus berfikir ‘Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin’.

Semoga dengan perayaan HPN 2020 di Provinsi Kalimantan Selatan ini bisa kembali mengingatkan kita, bahwa bangsa kita adalah NKRI yang bersemboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ meski kita berbeda suku, ras dan agama, tetapi kita tetap satu jua, saling berbagi, memberi dan perduli terhadap sesama.

“Selamat bertahan kawan, semoga nawacita yang digelorakan pemerintah untuk pemerataan dapat juga kalian rasakan”, Patlalu (permisi) Kalimantan Selatan. | Ekli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *