LAMPUNG7NEWS | Dapat digunakan ke Versi Desktop Pada Handphone Anda

Tulang Bawang Barat | Tradisi Adat Budaya Lampung, Muli Mekhanai Tiyuh Pagar Dewa Pertahankan Tradisi Masak Juwadah (Masak Kue).

Tetap pertahankan tradisi budaya Lampung, muli menganai Tiyuh Pagar dewa Kecamatan pagar dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), selalu mempertahankan masak kue untuk salah satu bentuk menjaga tradisi budaya Lampung. Selasa (08/10/2019)

Berada di rumah kediaman damiri sape,i sebagai pengantin wanita yang akan di lamar oleh pengantin peria berlangsung nya kegiatan tersebut mengatakan, ia mengucapkan terimakasih atas kerjasama dalam membantu nya dan sangat senang sekali atas kekompakan muli menganai Tiyuh Pagar dewa Yang selalu aktif mempertahankan tradisi masak kue di rumahnya,

“Saya ucapkan terimakasih kepada muli menganai yang mana telah bersusah payah untuk membantu acara nya, tentunya harapan saya semoga dalam kegiatan ini selalu di Pertahankan dan selalu terjaga,”ucap nya

Senanda yang di sampaikan ali pendra selaku Kepalou Menganai (Ketua pemuda) Tiyuh Pagar dewa dirinya selalu bekerja keras untuk mempertahankan tradisi budaya Lampung yang mana sudah sangat jarang sekali acara yang melaksanakan kegiatan ini,

“kami sudah terbiasa dalam kegiatan seperti ini dan kami akan selalu bekerja keras untuk melakukan kegiatan ini dan ini adalah salah satu bentuk kekukuhan kami untuk selalu menjaga dan tetap mempertahankan tradisi masak juwadah (kue) yang mana ini adalah salah satu tradisi muli menganai (muda-mudi) lampung yang harus kita Lestarikan dan kita jaga.”jelasnya

Salah satu bentuk menjaga tradisi budaya Lampung yang di lakukan muda-mudi (muli menganai) Tiyuh Pagar dewa seharusnya selalu terjaga dan selalu di pertahan kan demi melestarikan tradisi budaya Lampung karna kegiatan seperti ini sudah jarang kita jumpai bahkan sudah hampir punah, di Kabupaten Tubaba hanya Tiyuh-Tiyuh tua saja yang masih kental tradisi seperti ini, khususnya untuk melestarikan tradisi budaya Lampung peran muda-mudinya yang harus terjaga dan bimbingan dari Tokoh-tokoh adat di Tiyuh-Tiyuh tua setempat.” tungkasnya. | pendra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *